PENDIDIKAN RAMAH LINGKUNGAN DAN PENDIDIKAN UNTUK SEMUA

Perilaku manusia terhadap lingkungannya dari hari ke hari semakin mencemaskan. Membuang limbah sembarangan, seperti sampah,  limbah rumah tangga, dan limbah industri merupakkan perilaku yang tidak ramah dengan lingkungan yang akan berdampak balik terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Belum lagi perilaku, seperti membabat hutan secara liar, pengalihan lahan  hutan menjadi pertanian, dan termasuk dengan cara pembakaran hutan. Perilaku itu dapat menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor, yang akhirnya merugikan kehidupan manusia di daerah bencana. Lalu bagaimana usaha pemerintah dan masyarakat untuk menyadarkan dan menumbuhkan perilaku manusia agar peduli terhadap lingkungan hidupnya. Apakah mungkin dapat ditumbuhkan melalui pendidikan ramah lingkungan dan pendidikan untuk semua?

1. Pendidikan Ramah Linkungan
Pendidikan ramah lingkungan adalah usaha nyata manusia yang teratur dan terencana dalam menyelamatkan lingkungan hidup sebagai tempat bermukim, mempertahankan hidup, dan meneruskan keturunan. Pendidikan ramah lingkungan pada dasarnya lebih sbuah konsep hidup yang bersinergis antara manusia dengan alam.

2. Pendidikan untuk semua
Pendidikan untuk semua adalah pendidikan yang mampu menyentuh semua lapisan masyarakat, tanpa memandang teori-teori ekonomi yang mendikotomikan kaya dan miskin. Pendidikan untuk semua dikondisikan bagi peserta didik untuk dapat belajar dan bertukar pengalaman, bukan untuk mencari gengsi atau kedudukan dalam masyarakat.

Usaha-Usaha Pendidikan Ramah Lingkungan di dalam Menyelamatkan Lingkungan Hidup
Pendidikan ramah lingkungan harus mampu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengajarkan yaitu:
1.    Menyadarkan manusia, bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa alam, maksudnya di dalam memanfaatkan sumber daya alam tanpa harus merusaknya.
2.    Menanamkan sikap menghargai keseimbangan makrokosmos bumi, yaitu bahwa segala benda dan makhluk yang tercipta di bumi adalah saling melengkapi untuk menjaga keseimbangan alam semesta.
3.    Tidak merusak ekosistem bumi, misalnya dengan mengolah sampah organik dan non-organik menjadi barang yang bermanfaat, sehingga tidak merusak ekosistem tanah dan air.

Prinsip-Prinsip  Pendidikan untuk Semua Lapisan Masyarakat
Pendidikan  di era globalisasi ini, seakan-akan tidak berpihak kepada masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah. Pendidikan didominasi oleh kalangan orang-orang kaya. Pendidikan formal dari TK sampai Perguruan Tinggi di kota-kota besar, sepertinya menjadi milik orang-orang kaya saja, sementara sekolah-sekolah yang ada di desa semakin terpinggirkan menjadi milik kaum miskin. Hal ini dapat kita rasakan betapa tingginya biaya yang diperlukan untuk dapat menimba ilmu di sekolah-sekolah yang ada di kota. Sebagai contoh, siswa lulusan SMA yang memiliki prestasi belajar yang tinggi belum tentu bisa melanjutkan ke PT, misalnya Fakultas Kedokteran UNUD, biaya awal untuk jalur umum sampai 29 juta, bahkan jalur khusus sampai 79 juta. Bagaimana dengan anak yang memiliki prestasi belajar yang tinggi tetapi ekonomi orang tuanya tidak mendukung?
Kalau saja semua pihak menyadari, bahwa pendidikan itu adalah untuk semua, maka pasti mereka akan mengingat ciri-ciri budaya bangsa, salah satunya yang dikenal  dengan prinsip hidup gotong-royong, yaitu berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Menggali nilai-nilai luhur budaya bangsa, tampaknya akan menjadi semangat baru pendidikan nasional. Pendidikan yang bercirikan budaya bangsa inilah yang mungkin akan dapat mengurai benang kusut pendidikan nasional. Siswa yang tidak mampu dari segi biaya, tetapi mampu dari segi kecerdasan intelektual, selayaknya pemerintah dan masyarakat menjamin kelangsungan pendidikannya, sehingga prinsip pendidikan berkeadilan dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat.