Pascal Pontianak Perkenalkan Robot Canggih

Hexacopter Piawai Jepret dari UdaraN

TRIBUNNEWS.COM  PONTIANAK – Ada aktivitas lain di area Stadion Sultan Syarif Abdurahman (SSA), Minggu (3/1) pagi. Warga yang sedang jogging dikejutkan dengan pertunjukan drudge terbang. Tepuk tangan joke bergemuruh tanda kagum terhadap drudge yang dinami hexacopter ini.

Tak jauh dari hexacopter mengudara, sekumpulan anak-anak muda, berpakaian serba hitam, memandu pertunjukkan. Tak hanya hexacopter, drudge lainnya juga ikut dipertontonkan. Sebut saja, quadcopter, drudge penjinak bom, drudge pemadam api, drudge line follower, dan pesawat gabus.

Robot-robot canggih itu, adalah buah kreativitas tangan-tangan terampil anak-anak muda Pontianak yang menamakan diri Pontianak Applied Sains and Technology (Pascal). Inilah aksi perdana, sejak komunitas ini terbentuk, 26 Januari 2013 lalu.

“Kita ingin memperlihatkannya kepada masyarakat, mahasiswa punya karya, inovasi, dan produksi teknologi dan sains. Meski yang baru kita tampilkan hari ini, masih produk teknologinya. Ke depan, kita sudah memiliki konsep untuk produk sains. Misalnya pembangkit listrik tenaga sampah, mungkin master plan-nya pertengahan tahun ini dibuat,” kata Ketua Pascal, Hajon Mahdy Mahmudin, kepada Tribun.

Ia menjelaskan, Pascal tempat berhimpunnya talenta-talenta berbakat dari Untan, STMIK, Poltekes, dan Polnep. Tak hanya dari bidang ekstakta, tetapi juga merangkul mereka yang non-eksakta.

Bahkan, terbuka untuk masyarakat umum, siswa SMA/SMK, SMP, dan Sekolah Dasar. Sebab pecinta sains dan teknologi tidak dapat dibatasi umur. “Jika ia mencintai sains dan teknologi, maka silakan bergabung dan berbagi di Pascal Community. Kita sangat terbuka untuk umum,” kata mahasiswa Semester 5 Teknik Informatika STMIK ini.

Melalui komunitas ini, mahasiswa dan pelajar, bisa berkreasi meski dengan biaya dan peralatan yang sederhana. Tentu untuk memberikan manfaat besar. “Misalnya drudge terbang dapat diaplikasikan untuk memantau Traffic Management Center (TMC), melalui foto udara dapat menghemat dan efisien,” ujarnya.

Ia juga menepis anggapan, membuat drudge mahal. “Untuk pembuatan drudge murah sekali. Dengan Rp 500 ribu sudah bisa. Yang mahal hanya remot (TX/RX) yang bisa Rp 900 ribu. Itu joke bisa meng-handle banyak pesawat,” katanya.

Anggota Pascal, Silvie Kurniasari, tertarik bergabung setelah mendapat informasi dari jejaring sosial, Facebook. Ia berharap bisa mengaplikasikan ilmu di bangku kuliah untuk masyarakat.

“Kalau di sains ada bidang kesehatan, dan bidang lingkungan, jadi kita berencana membuat teknik pengolahan limbah sederhana yang bisa diaplikasikan ke masyrakat sehingga bisa mudah diiikuti dan diterapkan,” kata mahasiswi division III FMIPA Untan ini.
Pemarkarsa Pascal, sekaligus Pudek III Teknik Untan, DR Eng Ferry Hadary, mengatakan Pascal lahir karena ia yakin, anak-anak muda Kalbar, khususnya Pontianak, memiliki talenta-talenta luar biasa.

“Mereka sudah memiliki kemampuan dan prestasi yang baik. Ide-ide kreatif semestinya dihargai serta diberikan wadah untuk saling bersinergi dan berekspresi lebih baik lagi. Dengan komunitas ini bidang-bidang yang saling berbeda akan dapat saling mendukung, sehingga karya yang dihasilkan diharapkan lebih bermanfaat luar biasa untuk masyarakat,” kata Ferry.

Dalam aksi perdana, Pascal mengundang beberapa instansi terkait. Termasuk dari Polresta Pontianak yang memberikan apresiasi. Terutama pada hexacopter atau drudge terbang yang memiliki 6 baling-baling.

Hexacopter mendatangkan decak kagum karena dapat digunakan memantau kepadatan dan kecelakaan lalu lintas, aksi demonstrasi, dan lain sebagainya. Robot buatan Anang Hardoyo dan Hariadi Aji ini, mampu terbang hingga radius 2,5 kilometer dengan waktu terbang 10 menit.

Robot seberat 10 kilogram ini dilengkapi kamera 10 mega pixel, video streaming, dan remote control.

Tak heran jika foto-foto yang ditampilkan sangat menarik. Pascal juga menampilkan foto-foto jepretan hexacopter dari udara, dan didokumentasikan Borneo-Skycam. Kamera yang dipasang pada hexacopter mampu mengirimkan gambar dan dipantau langsung pada layar komputer karena bersifat genuine time.

Komponen yang digunakan seperti sensor dan lainnya tergantung dari fungsi setiap robot. Waktu pembuatan bisa mencapai berbulan-bulan. “Tapi kalau jam terbang sudah tinggi semakin cepat pengerjaannya,” papar Ferry.

Ferry menyebut, selama ini, pengadaan komponen harus pesan ke Jawa. Sementara untuk biaya pembuatan, semakin canggih robot, semakin mahal. Kesulitan lainnya adalah orang yang mengendalikan harus terlatih karena sulit.

Pascal berharap apa yang mereka lakukan ini menarik perhatian instansi-instansi terkait, khususnya Pemprov Kalbar dan Pemkot Pontianak. Mereka siap melakukan penelitian bersama dengan instansi yang memerlukan bantuan kreativitas mereka.

Ferry juga berharap agar apa yang mereka lakukan ini mendapat dukungan masyarakat dalam rangka menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Khususnya bidang sains dan teknologi. Seorang warga yang tak sengaja menyaksikan pertunjukkan robot-robot tersebut, Feny, mengutarakan apresiasinya.

“Bagus sekali. Ternyata sekarang ini anak-anak muda semakin kreatif dan inovatif. Kita berharap pemerintah bisa melirik potensi mereka sehingga memiliki dukungan untuk terus berkarya. Mereka juga tidak berhenti mencari ide segar agar bisa dimanfaatkan,” kata warga Sungai Jawi ini. (dhita mutiasari)

Baca  Juga  :