HIV/AIDS DI MATA KAUM REMAJA

Masa remaja usia 10-24 tahun merupakan masa transisi yang unik dan khusus yang ditandai dengan barbagai perubahan fisik, emosi, dan psikis. Dan masa remaja ini di sebut pubertas atau peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa dengan pematangan organ-organ sex atau reproduksi. Perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja begitu cepatnya dibandingkan dengan perubahan emosi dan psikis. Perubahan yang cukup besar ini dapat membingungkan remaja yang mengalaminya untuk itu mereka memerlukan pengertian, bimbingan, dan dukungan lingkungan sekitarnya agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang sehat baik fisik, mental, sosial budaya, dan ekonomi. Dalam lingkungan sosial tertentu, masa remaja bagi pria merupakan saat diperolehnya kebebasan, sementrara bagi remaja wanita saatnya dimulainya segala pembentukan pembatasan.

Seiring dengan berbagai perubahan yang dialami remaja, remaja cenderung ingin mencari jati diri lewat mencoba segala sesuatu yang belum pernah dilakukannya atau lebih dikatakan tidak mau ketinggalan jaman. Dalam arti jika tidak mau ketinggalan jaman. Dari pergaulan antara sesamanya, remaja kadang terjerumus pada pergaulan bebas hingga mulai mencoba-coba narkoba dan melakukan hubungan seksual diluar nikah, sehingga menjadi resiko tertular penyakit menular seksual HIV/AIDS.

Hal ini sangat memprihatinkan karena banyak kasus-kasus yang menyatakan hampir 10%-40% pecandu narkoba yang diduga kebanyakan dari para remaja yang memakai jarum suntik positif terinfeksi virus HIV/AIDS. Penyebaran HIV sangat cepat melalui jarum suntik karena langsung masuk ke sistem pembuluh darah dan dengan melakukan sex bebas penularan semakin cepat terjadi.

Banyak para remaja juga tidak mengetahui bahwa penyakit yang mereka derita akibat virus HIV/AIDS sudah mencapai tingkat yang serius karena terlambat diagnosa dan sering menimbulkan komplikasi. Hal ini terjadi karena mereka kurang mendapatkan informasi tentang penyakit AIDS. Mereka juga belum mendapat berbagai bentuk bimbingan, nasihat, dan konseling, baik dari orang tua, keluarga, dan guru mereka, atau pihak-pihak lainnya.

AIDS adalah penyakit yang berbahaya dan merupakan ancaman latent bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. AIDS merupakan silent killer karena tanpa ada gejala kita dapat meninggal sewaktu-waktu. Hal ini disebabkan karena masa inkubasi atau masa lantent infeksi HIV bertahun-tahun rata-rata antara 5-7 tahun. Ini berarti seorang yang menderita HIV tidak menunjukan suatu gejala klinis. Dengan kata lain orang tersebut akan tampak merasa sehat selama bertahun-tahun.

HIV masuk kedalam tubuh melalui darah, bisa melalui luka ataupun pembuluh darah. HIV yang jumlahnya cukup besar sehingga mudah menulari tubuh seseorang ternyata ada dalam 3 cairan yang ada dalam tubuh manusia, yakni: darah, sperma dan cairan vagina. Selain itu dalam konsentrasi yang sangat kecil, HIV juga ada dalam cairan tubuh yang lain seperti: air mata, keringat, ludah, tinja dan lain-lain. namun cairan tersebut tidak cukup kuat untuk menularkan HIV pada orang lain. sehingga dapat disimpulkan bahwa HIV hanya dapat menular malalui beberapa cairan tubuh.

Bentuk lain dari penularan HIV adalah melalui darah. Hal ini terjadi bila darah tercemar HIV masuk ke dalam tubuh seseorang, baik secara langsung yaitu melalui transfusi darah dan transplantasi organ maupun melalui alat-alat yan mengandung darah dan mudah tercemar HIV seperti jarum suntik yang telah digunakan oleh seseorang yang telah terinfeksi HIV tanpa disterilisasi terlebih dahulu. Sebaiknya jika menggunakan jarum sekali pakai baik untuk suntikan, tattoo, tindik dan lain-lain.

Hubungan sosial dengan pederita HIV atau seseorang yang memiliki faktor terkena AIDS tidak beresiko terkena AIDS. Belum pernah di jumpai ada kasus dimana AIDS ditularkan melalui kontak sosial seperti biasa berupa berpelukan, bersalaman bahkan berciuman. Begitu juga menggunakan pakaian berganti, HIV juga tidak menular. Walaupun demikian tetap saja kita harus waspada terutama kaum remaja yang sangat rentan tertular atau terkena HIV.

Jadi jika seseorang tertular HIV, sekali pun ia belum mengalami dan memperlihatkan gejala ia dapat menularkan HIV kepada orang lain melalui prilaku yang beresiko. Inilah yang disebut fenomena gunung es di mana satu angka yang di ketahui berarti kemungkinan 100 angka yang belum diketahui dan ini akan sangat menakutkan. Untuk itu diperlukan dukungan dari semua pihak agar remaja generasi penerus bangsa dapat tumbuh dan berprilaku hidup sehat baik secara fisik, mental, sosial sehingga Sumber Daya Manusia dapat meningkat.

Kemiskinan, tidak tersedianya lapangan pekerjaan dan hidup telantar sering sangat erat hubungannya dengan rendahnya tingkat pendidikan mereka. penyalah gunaan alcohol, obat bius, serta berbagai bentuk kejahatan lainnya merupakankan gejala sosial yang beresiko yang melibatkan remaja kita. Kecepatan perubahan yang terjadi dalam keluarga dan struktur sosial masyarakat akan mempengaruhi perkembangan kesehatan dan kesejahteraan remaja kita. Semua kondisi ini perlu diwaspadai dan dapat menjadi situasi perkembangan yang beresiko penyebaran HIV pada remaja.

No Responses

Tinggalkan Balasan