MENDIDIK, MENGAJAR, DAN MELATIH DALAM MERAIH PRESTASI

Melukis1

Meraih prestasi tentu diidamkan oleh setiap orang dalam situasi dan kondisi aktivitas apapun, termasuk kalangan siswa yang menuntut ilmu melalui pendidikan formal. Tidaklah mudah dalam meningkatkan prestasi belajar, hal ini disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses pembelajaran. Faktor ini diantaranya adalah ketenangan, kesabaran, kasih sayang, dan kebetahan siswa dalam belajar. Selama ini sering kita jumpai ketika proses pembelajaran berlangsung, saat guru menerangkan beberapa siswa asyik bercerita dengan temannya, membaca komik/buku ceritra, atau bermain HP. Tentu saja hal seperti di atas bisa membuat guru merasa tersinggung dan tidak dihormati. Tetapi mungkin ada juga guru merasa cuek, terserah yang penting sudah melaksanakan kewajibannya. Pengalaman seperti itu merupakan hal menarik untuk disimak. Sebagai guru kreatif, inovatif dan profesional tentu kita tidak ingin mengalami hal-hal seperti itu. Sebaiknya kita belajar dan terus belajar supaya peristiwa tersebut tidak menimpa kita sebagai guru.

Guru yang profesional tentu harus menyadari, apa sebenarnya makna pembelajaran tersebut. Pembelajaran dapat didefinisikan yaitu suatu upaya interaksi yang dilakukan guru dengan siswa melalui sumber belajar pada suatu lingkungan belajar agar terjadi perubahan tingkah laku dalam diri siswa. Atau dengan kata lain, pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan guru untuk membantu siswa, agar dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya dalam kaitannya meraih prestasi. Beban belajar siswa memang berat karena seorang siswa tidak hanya belajar untuk satu mata pelajaran melainkan bisa sampai 15 mata pelajaran, salah satunya terdapat mata pelajaran seni budaya.

Apapun mata pelajarannya termasuk mata pelajaran seni budaya, seorang guru harus mampu mengelola pembelajaran dengan baik sehingga hasil pembelajaran yang diharapkan benar-benar tercapai sesuai harapan. Guru adalah seorang kreator proses pembelajaran, sudah menjadi kewajiban bagi guru untuk mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik minat, bakat, serta mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya. Tapi pada kenyataanya masih banyak pembelajaran yang cenderung bersifat teoritis dan tidak terkait dengan lingkungan siswa berada. Kondisi seperti ini menyebabkan siswa jenuh dan tidak betah belajar. Agar tugas guru dalam kegiatan pembelajaran menjadi maksimal dan siswa merasa nyaman ketika pembelajaran berlangsung, maka guru harus pandai meramu kegiatan pembelajaran tersebut.

Dikalangan pendidikan sering kita mendengar sebutan PAIKEM yang mampu menciptakan suasana belajar yang menarik dan bermakna. PAIKEM merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang bisa membuat suasana di kelas menjadi asyik dan efektif. PAIKEM singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan dalam pembelajaran guru garus menciptakan suasana yang membuat siswa aktif bertanya serta mengemukakan pendapat. Peran aktif siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi kreatif yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Inovatif, guru harus mampu membuat perubahan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode, sehingga siswa merasa enjoy belajar.
Kreatif, juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan tentu saja suasana belajar mengajar yang menyenangkan.

Dengan pendekatan PAIKEM diharapkan siswa dapat memusatkan perhatian secara penuh pada waktu belajar. Sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Secara garis besar PAIKEM bisa digambarkan sebagai berikut, Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan untuk mengembangkan pemahaman dan kemampuan dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan dan cocok bagi siswa.

Dalam pembelajaran seni budaya khususnya dalam pelajaran seni rupa, pendekatan PAIKEM sangat cocok. Misalnya dalam pembelajaran melukis, semua siswa akan secara aktif terlibat dalam proses belajar melukis. Dengan bantuan media dan lingkungan sebagai sumber belajar. Dalam pembelajaran melukis untuk mengembangkan pemahaman dan kemampuan dengan penekanan pada belajar melalui berbuat, dapat dikembangkan melalui tiga tahapan yaitu meniru, memodifikasi, dan kreasi. Tahap awal dalam kegiatan belajar melukis dapat dilakukan dengan meniru. Meniru merupakan kegiatan mencontoh karya lukisan dari karya orang lain atau meniru bentuk-bentuk obyek yang ada di alam yang menghasilkan karya mirip dengan karya atau obyek yang ditiru. Tahap kedua dalam belajar melukis adalah modifikasi yang merupakan tahapan melukis dengan memasukan cetusan ide terhadap karya yang sudah ada atau obyek alam sehingga menghasilkan suatu karya lukisan yang sudah berbeda dari karya aslinya atau obyek alam. Tahap ketiga adalah kreasi, tahapan ini merupakan tahapan sesungguhnya dalam melukis karena seorang pelukis setiapr berkarya harus merupakan cetusan-cetusan ide kreatif. Seorang pelukis tidak boleh plagiat, tetapi untuk mengawali belajar diperbolehkan karena bukan untuk dikomersilkan.

Sebelum siswa memulai untuk belajar melukis tentu terlebih dahulu siswa harus memahami medium dalam berkarya dan nilai-nilai estetika. Agar siswa lebih cepat dalam memahami medium dan nilai-nilai estetika dapat dilakukan melalui pengenalan beberapa karya lukisan dengan menunjukkan medium yang digunakan seperti bahan yang digunakan melukis, alat yang diperlukan untuk melukis, teknik yang digunakan untuk menerapkan bahan, dan nilai-nilai estetika yang menunjukkan karya tersebut indah. Siswa juga diberikan kesempatan untuk bereksperimen atau mencoba menerapkan bahan dan alat untuk melukis sehingga siswa akan mengenal langsung karakteristik bahan dan alat yang digunakan melukis. Dengan demikian siswa akan dapat membedakan karakteristik dari masing-masing bahan, seperti karakteristik krayon/pastel kering dan tebal, karakteristik pensil warna kering dan lembut, karakteristik cat air basah dan transparan, karakteristik cat minyak basah dan plakat, dan sebagainya.

Setelah siswa cukup memahami dasar-dasar melukis dapat dilanjutkan pada tahapan melukis di atas yaitu belajar meniru, belajar memodifikasi, dan belajar berkreasi. Masing-masing tahapan dapat dilakukan secara berulang-ulang untuk melatih keterampilan dalam penguasaan medium melukis yang meliputi penguasaan bahan, alat, dan teknik melukis. Dalam kegiatan pembelajaran melukis, seorang guru tentu akan berhadapan dengan masalah-masalah yang dialami oleh siswa. Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam belajar tidak terkecuali dalam belajar melukis. Hal-hal yang bersifat umum dapat disampaikan secara klasikal, akan tetapi hal-hal yang sifatnya mengkhusus pada setiap siswa harus dilakukan bimbingan secara individu. Sehubungan dengan itu, guru perlu melakukan upaya-upaya untuk melakukan individualisasi pembelajaran. Individualisasi pembelajaran dimaksudkan sebagai bentuk pembelajaran yang dapat melayani perbedaan peserta didik dan sesuai dengan kemampuan, tempo belajar, minat, dan nafsu belajar masing-masing.

Selain hal tersebut di atas agar pembelajaran selalu berlangsung dengan optimal, guru senantiasa membuat suasana belajar menyenangkan dan menarik agar siswa termotivasi untuk belajar lebih giat. Guru harus dapat menciptakan hubungan yang harmonis dengan siswa. Karena siswa itu sendiri sebagai manusia yang memiliki rasa cinta jangan sampai membuat julukan negatif pada seorang guru gara-gara selalu marah dan berteriak.

Bahasa kasih sayang merupakan salah satu kunci sukses bagi semua guru untuk membangun sebuah hubungan yang indah dengan siswa agar tercipta suasana menyenangkan. Seorang guru dapat membangun hubungan yang indah dengan siswa jika mau berbuat, seperti:

  1. Mengakui kesalahan yang pernah dilakukanGuru adalah sosok yang di kagumi, dihormati, sehingga akan menjadi sangat memalukan baginya untuk mengakui kesalahan yang mungkin telah di perbuat kepada para siswanya. Kewibawaan seorang guru akan terlihat dari apa yang telah ia lakukan. Sikap mengakui kesalahan dan mau minta maaf menunjukkan kebersihan hati seseorang.
  2. Pujian untuk meningkatkan motivasi belajar
    Jangan pelit memberi pujian kepada siswa atas keberhasilan yang di capai. Setiap usaha yang telah dia lakukan dalam pembelajaran tenyata mampu meningkatkan motivasi belajar dengan memberi pujian berarti seorang guru sedang menumbuhkan kepercayaan diri pada siswanya.
  3. Memberi kesempatan berfikir kreatif
    Menanyakan dan memberikan pilihan kepada siswa dalam proses pembelajaran akan membuat siswa berlatih mengambil keputusam sendiri tanpa ada paksaan. Siswa akan terdidik untuk berpikir kreatif dalam mencari pemecahan suatu masalah.
  4. Mau menghargai orang lain
    Kata terima kasih merupakan ungkapan yang bermakna luas, ketika seorang siswa mampu mengatakan terima kasih baik kepada teman atau gurunya berarti dia memiliki kepekaan bahwa apa apa yang telah berhasil ia dapatkan bukan semata-mata kehebatannya sendiri melainkan ada orang lain yang turut membantu. Dari sinilah siswa dapat belajar untuk menyadari bahwa bekerja sama merupakan hal yang sangat baik untuk dilakukan.

Dengan bahasa kasih sayang, hubungan yang kaku antara guru dan siswa sudah saatnya diubah menjadi hubungan yang harmonis penuh rasa cinta seperti rasa cinta orang tua terhadap anaknya. Dengan demikian akan mencetak calon-calon generasi yang unggul dan berprestasi di masa mendatang.

No Responses

Tinggalkan Balasan